Currently Listening : Sore – Mata Berdebu
Seperti yang sudah saya tulis di postingan terakhir, seminggu ini saya menghilang dalam rangka menghadiri pernikahan si-Abang di Bandung. Moment ini saya manfaatkan juga sebagai ajang quality time bareng keluarga sama temen” baik saya yang kebetulan tinggal di bandung. Sayangnya keluarga saya tidak utuh, karena kakak perempuan saya belum bisa membawa si-keponakan yang usianya masih 3 bulan, terlalu ber-resiko katanya, jadi dia diwakili sama kakak Ipar yang bela-belain bolos kuliah Spesialis dari Surabaya hihi..

Tentang pernikahannya, alhamdulillah semuanya berlangsung lancar. Walaupun ada beberapa bagian adat Sunda yang masih terlihat asing buat saya. Lagi-lagi, semua air mata saya terkuras sewaktu memasuki bagian sungkeman, terulang seperti pernikahan kakak perempuan saya yang terdahulu. Saya memeluk erat abang saya + istrinya ( Teh Ina ) dengan kencang, sekaligus berpesan agar pernikahan ini langgeng.. Oh iya, saya dapat keluarga baru, keluarga H.Yaya (keluarga Teh-Ina)Bandung hehehe, yang isinya semua pada suka ngariung dan gegeloan hihi. Seru deh!

Di luar itu, entah kenapa kumpul keluarga kali ini banyak membuat saya merenung! merenung dan merenung. Tentang banyak hal yang sebelumnya kepikiran juga enggak.
+ Sesi kumpul keluarga
Sewaktu saya terlibat percakapan dengan mama & papa sama Abang ( yang ternyata sering baca blog saya hehe), tampak bahwa sedikit banyak obrolan kami menjurus ke arah yang lebih dewasa. Biasanya kalo ngumpul yang ada kita semua pada becandaan mulu, saling rebutan ini itu dsb. Kali ini saya lebih banyak curhat tentang banyak hal, yang suka bikin saya bingung mau cerita ke siapa, dan pun pengen cerita ke mereka lewat telepon kok ya nanggung rasanya.. Saya curhat tentang pertemanan, ambisi, kekesalan karena diremehkan, ke-eksis-tensian, sampai masalah krisis ke-PD-an saya yang selama ini berkurang. Beberapa jawaban dari mereka sempat membuat saya menangis di pelukan mama, jawaban yang sangat bijak, tanpa menggurui, dan bisa membuat saya semangat.. Intinya mereka bilang bahwa dimata mereka, saya selalu yang terbaik, saya selalu menjadi kebanggaan walaupun mungkin di sana sini terdapat banyak kekurangan. Selain itu, mama juga berpesan bahwa untuk bisa berhasil ; saya harus melakukan banyak hal dengan semangat, dan berbuat yang terbaik untuk Alloh,keluarga,dan orang sekitar, walaupun mungkin pada awalnya dieremehkan.. Tentang pertemanan si Papa ngasih saran ; bahwa sebuah pertemanan yang nyaman adalah ketika tidak ada perasaan yang dikorbankan, ketika sebuah pengorbanan dihargai dengan tulus, ketika saya gak harus memakai topeng agar bisa terlihat hebat. Intinya sih teman yang sejati itu selalu membuat saya nyaman, gak selalu harus ada buat saya, tapi ketika mereka gak ada saya akan selalu memantau hal-hal terkecil buat jaga” dan sebaliknya . Kalo udah begini, saya jadi sadar banget bahwa diluar segalanya, saya masih beruntung punya keluarga yang selalu ada buat saya, selalu mengerti dan saling berbagi
+ Sesi kumpul temen”

Di Bandung, saya sempet kumpul bareng Dini, Bowo, sama Reki ( Minus Ibot yang lagi persiapan Ko-Ass di Jakarta, sama Kipot yang katanya lagi bikin skripsi di Jogja huh! benci akuk). Beberapa teman terbaik yang pernah ada buat saya. Kita sempet hang-out dibeberapa tempat makan, nonton bareng( akhirnya merasakan betapa nikmatnya nonton di Blitz hehe,norak!), karaoke-an sampe pegel, sampai belanja bareng. Hal-hal biasa yang selalu terjadi kalau kita ngumpul. Tapi point utama adalah apa yang kita obrolin, kita bicara soal perkawinan, obsesi beberapa tahun mendatang, mengenang kebodohan masa putih-abu-abu, cela mencela, sampai curhat ina ini ina inu. Obrolan yang lagi” berhasil membuat saya tertawa terpingkal-pingkal dan melepaskan semua topeng di diri saya dan sekaligus bersamaan mebuat kita termanggut-manggut serius. Sinting! dan hal yang paling mengejutkan adalah ketika giliran si Reki- jejaka – ITB – yang – jarang – curhat – soal – lovelife dan tiba-tiba minta pendapat dalam banyak hal hahaha,ajaib memang!.. Do’oh saya bangga deh punya temen2 yang bisa diandalakan seperti kalian,banggggaaaaa banget! Tunggu ya, nanti kita kumpul” lagi di formasi lengkap di jakarta, pas kita kerja nanti. Amin
Nah kenapa saya bilang naik kelas ? karena eh karena, entah kenapa di umur segini yang kata Ray masuk ke kelas Remaja-Lanjut-Usia *stuju urang mah*, semua hal menjadi lebih serius untuk saya fikir sekaligus saya hadapi. Ketika umur bertambah saya gak harus jadi dewasa, se-enggaknya cara berfikir saya udah gak boleh kolokan lagi, harus mau mendahulukan perasaan sendiri, gak suka bilang gak suka jangan sampe ngorbanin diri sendiri dll. Saya naik kelas ciiiiing, tsaaahhhhhh hahahaha.